104KALI DIBACA

Aksi Free Fall Pasukan Brigif PR 3/TBS dari Ketinggian 2,7 Km Jadi Hiburan Warga

Aksi Free Fall Pasukan Brigif PR 3/TBS dari Ketinggian 2,7 Km Jadi Hiburan Warga
Foto: Penkostrad

MedanEkspres | Maros – Aksi terjun payung (Free Fall) 32 prajurit Brigif Para Raider 3/TBS dari satuan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), menjadi hiburan spesial bagi warga masyarakat Carangki Tanralili, Kabupaten Maros, Sulsel, Minggu (28/9/2019).

Foto: Penkostrad


Kegiatan digelar selama 14 hari, mulai 17-30 Juli 2019 dalam rangka Pemeliharaan Kemampuan (Harpuan) Triwulan III 2019. Hal ini mendapat perhatian masyarakat sekitar lokasi latihan. Terlihat ratusan warga berbondong-bondong datang dan berkumpul di tanah lapang Dusun Bira untuk melihat dari dekat aksi para penerjun dari Prajurit TNI.

Foto: Penkostrad


Para peterjun dari Brigif Para Raider 3/TBS tersebut diterjunkan dari ketinggian 9.000 Feet atau setara 2,7 Km dari pesawat CASA 212 milik Penerbad dengan Pilot Kapten Cpn Adhitya.

Adapun 32 prajurit dari Brigif Para Raider 3/TBS Kostrad yang melakukan aksi terjun Free Fall tersebut mengunakan Payung jenis Sabre Talon, M10 dan M9.

Foto: Penkostrad


Penerjunan di bawah pimpinan Letnan Satu Inf Andi Muh. Sulthan Yusuf yang sehari-hari menjabat Pasi Pam Brigif Para Raider 3/TBS.

Foto: Penkostrad


Danbrigif Para Raider 3/TBS Letnan Kolonel Inf Susilo, SSos saat ditemui di sela meninjau Latihan Harpuan tersebut mengatakan, bahwa kemampuan terjun bebas militer atau Military Free Fall ini merupakan salah satu kemampuan prajurit Brigif Para Raider 3/TBS yang digunakan dalam aplikasi Infiltrasi ke suatu daerah dalam misi tertentu.

Foto: Penkostrad


“Pada pelaksanaan sebenarnya peterjun menggunakan Full Combat Gear yang dirancang untuk mampu diterjunkan baik dengan metode Haho (High Altitude High Opening) maupun Halo (High Altitude Low Opening) guna menghindari pendeteksian musuh,” Danbrigif .

Foto: Penkostrad


Dengan demikian, sambungnya, pasukan yang infiltrasi melalui udara akan mampu menciptakan efek pendadakan luar biasa bagi lawan dalam pelaksanaan suatu operasi khusus.

Foto: Penkostrad


“Selain itu dengan kemampuan ketepatan mendarat, para peterjun juga mampu ditugaskan untuk menginfiltrasikan ke suatu daerah tertentu yang tidak dapat dicapai dengan alat angkut darat serta tidak memenuhi persyaratan sebagai landing zone bagi alat angkut udara,” katanya. (*/zul)

*Sumber: Penkostrad

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below